Istilah photography berasal dari kata Photos yang berarti melukis dan Grofos yang berarti cahaya. Jadi secara harfiah photography bisa di artikan sebagai melukis menggunakan cahaya.

Sebagai istilah umum, fotografi berarti proses atau metode untuk menghasilkan gambar atau foto dari suatu objek dengan merekam pantulan cahaya yang mengenai objek tersebut pada media yang peka cahaya.

Namun menggambar dengan cahaya disini tidak dimaksudkan kita menggambar dengan cahaya dengan sembarangan, ada mekanisme dan aturan serta perhitungan yang tepat agar foto yang dihasilkan dapat terekam dengan baik.

Seorang penghobi foto ataupun fotografer profesional pasti tau betul cara untuk menghasilkan perhitungan yang tepat, dan hampir setiap dari mereka pasti menggunakan TRIANGLE PHOTOGRAPHY untuk mengukur cahaya yang dibutuhkan.

Exposure Triangle atau segitiga pencahayaan adalah sebuah cara yang umum untuk mengasosiasikan 3 variabel penting yang menentukan pencahayaan sebuah foto, yaitu aperture (bukaan), shutter speed (kecepatan rana), dan ISO. Seorang fotografer harus menyeimbangkan ketiganya untuk menghasilkan sebuah foto sesuai yang diinginkan atau dibayangkan. Penyesuaian pada satu variabel akan mempengaruhi dua variabel lain. Tidak hanya akan mempengaruhi pencahayaan, keseimbangan ketiga variabel tersebut akan mempengaruhi bagaimana tampilan dan kesan dari foto tersebut. Maka dari itu penguasaan akan exposure triangle adalah hal yang sangat penting bagi seorang fotografer.

Atau untuk lebih mudahnya kita dapat menggunakan lightmeter untuk menentukan angka yang seimbang antara ISO,APERTURE,SHUTTER SPEED pada kamera.

Nah disini saya akan menjelaskan apa itu ISO,APERTURE,SHUTTER SPEED.

ISO

ISO adalah level sensitivitas sensor terhadap cahaya. Semakin rendah ISO semakin kurang sensitif terhadap cahaya, semakin tinggi ISO semakin sensitif terhadap cahaya. Dengan meningkatkan sensitivitas, sensor dapat menangkap gambar dalam kondisi lingkungan yang gelap tanpa harus menggunakan bantuan flash. Tetapi semakin tinggi sensitivitas semakin tinggi juga noise pada gambar.

APERTURE/DIAFRAGMA/BUKAAN

Sementar aperture adalah lubang pada lensa, dimana melalui lubang tersebut cahaya akan masuk. Semakin besar aperture semakin banyak cahaya yang masuk, semakin kecil aperture semakin sedikit cahaya yang masuk. Iris pada lensa yang mengendalikan ukuran diameter sebuah aperture disebut sebagai diaphragm. Fungsi utamanya adalah mengontrol seberapa banyak cahaya yang boleh masuk ke dalam. Aperture dinyatakan dengan f-numbers / f-stop (sebagai contoh f/8). Semakin kecil angka f-stop semakin besar aperture, semakin besar angka f-stop semakin kecil aperture. Dan aperture juga sangat berperan untuk menghasilkan DoF (Depth of Field).

Apa itu Depth of Field?

Ukuran aperture memiliki dampak langsung terhadap Depth of Field atau biasa disingkat DoF, yaitu sebuah zona ketajaman yang dapat diterima di depan dan di belakang subjek dimana lensa difokuskan.

Ada foto yang memiliki zona fokus kecil atau biasa disebut Shallow DoF, ada juga foto yang memiliki zona fokus besar atau biasa disebut Deep DoF. Aperture dengan f-number besar seperti f/16 (yang berarti aperture kecil) akan membuat foreground dan background foto masuk dalam zona fokus, lain halnya dengan f-number kecil seperti f/1.2 (yang berarti aperture besar) akan mengisolasi foreground dengan background dengan cara membuat subyek pada foreground tajam dan background buram/Blur.

SHUTTER SPEED

Shutter speed adalah seberapa lama shutter terbuka atau seberapa lama sensor terekspos terhadap cahaya. Jika terbuka lebih lama, semakin banyak cahaya yang masuk. Jika shutter terbuka dan tertutup dengan cepat, maka sedikit juga cahaya yang masuk.

Shutter Speed tinggi maupun rendah berfungsi sesuai kebutuhannya. Shutter speed tinggi dibutuhkan apabila anda ingin memberhentikan sebuah gerakan. Sedangkan shutter speed rendah dibutuhkan apabila ingin membuat semacam efek gerakan.

Bagaimana Aperture memengaruhi Shutter Speed?

Apabila anda menggunakan f/16, berarti sedikit cahaya yang masuk melalui lensa sehingga shutter harus terbuka lebih lama untuk menghasilkan pencahayaan yang benar. Begitupun sebaliknya, apabila anda menggunakan f/1.2, berarti banyak cahaya yang masuk melalui lensa sehingga shutter tidak perlu terbuka lama.


Jadi kesimpulannya sebelum kalian menekan shutter button, kalian harus memikirkan dan membayangkan gambar seperti apa yang ingin kalian buat.

ketika kalian sudah membayangkan gambar seperti apa yang akan kalian buat barulah menentukan aspek mana yang harus di kunci dan sisanya mengikuti.

sebagai contoh jika kalian ingin membuat gambar air yang lambat maka pastikan kalian mengunci shutter speed di angka 1/15′ dan gunakan iso 100 serta cari aperture yang tepat sehingga kalian bisa mendapatkan garis metering yang tepat di angka 0.

Dan jangan lupa untuk latihan secara terus menerus agar kalian bisa mendapatkan “feel” yang kuat untuk menghasilkan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *